Cukup lama kuperhatikan gadis itu tak jemu memandang
penuh kekaguman pada lukisan seukuran 1
m x 0,5 m dipojok pameran. Diperhatikan inchi demi inchi goresan itu dengan
penuh rasa takjub. Lukisan tentang sesosok gadis tergambar hitam putih
menggenggam topeng tersenyum di tangan kiri dan wajah aslinya yang sedang
menangis pilu. Entah mengapa gadis itu seperti tersihir hingga kakinya enggan
melangkah pergi.
Ragu-ragu kuseretkan kakiku mendekatinya. “Permisi
mbak, maaf pamerannya harus segera tutup”.
“Oh iya mas” kulihat sepintas matanya berkaca-kaca.
Disempatkannya melihat kembali lukisan itu lekat-lekat, nama pelukis yang
tertulis dibawah judul lukisan menarik perhatiannya “Rizki?”
“Kalau masih belum puas, pamerannya masih akan buka
sampai tiga hari kedepan kok”
“iya… um… mas kenal dengan orang yang membuat
lukisan ini?”
“Rizki? Iya aku aku kenal dengan Rizki”
“Beneran? Bisa nemuin aku sama dia nggak?”
“Hah?”
“Kenapa mas? Dia belum meninggal to?”
“Hahaha” tawaku meledak seketika. “Rizki nggak
meninggal kok…. Setidaknya belum…” ucapku setelah tawa reda, sambil menunjukkan
name tag kepanitianku. Gadis yang akhirnya kutahu bernama Vita itu tersipu
malu.
Itu dua tahun lalu. Dua tahun aku berpacaran dengan
dia. Selama itu pula aku menyadari aku tidak pernah mencitai Vita.
Ketertarikanku akan kepribadiannya yang cerdas dan riang membuatku suka padanya
lalu berubah menjadi sayang. Tapi cinta? Tidak. Aku tidak pernah mencitai Vita.
Aku juga tahu dia menyadari hal itu. Hanya saja dia lebih memilih diam dan
tidak menyingungnya kecuali bersikap sebagai kekasih dan pacar yang sempurna
bagiku. Yang kutahu Vita mencintaiku. Sangat mencintaiku.
Dengan semua kondisi itu, aku tetap merasa pedih
ketika melihat dia tergolek lemah di ranjang serba putih ditengah rumah sakit
yang besar ini. Wajahnya yang senantiasa merona merah, kini pucat pasi.
Bibirnya nan senantiasa merah muda alami, kini kering dan terpecah. Senyum nan
senantiasa bertahtah disana kini nampak sedih.
Kukecup bibir itu dalam-dalam. “Bibirku sudah nggak
enak lagi untuk dicium ya Riz?” kata-katanya berat tersenggal. Aku tercekat,
betapa kuatnya kekasihku ini, hingga dia bisa dengan ceria melontarkan guyonan
pada keadaanya yang sangat lemah saat ini! Kugelengkan kepalaku “Bibirmu masih
yang ternikmat untuk kekecup”
“Kamu tuh nggak pantes nge-gombal tahu nggak sih?”
dia terkekeh yang sedetik kemudian meringis ngilu menahan kepalanya yang terasa
pening tak terperi. Hatiku hancur melihat penderitaanya, rasa sakitnya. “Riz?
Boleh aku minta sesuatu?”
“Huum? Apa?”
“Aku tahu selama dua tahun berjalan kita berpacaran
kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Karena itulah kau selalu bilang
kalau kamu menyayangiku, tapi tidak pernah mengatakan I love You, karena pada
kenyataannya hanya ada rasa sayang disana tidak lebih”
“….” Aku terhenyak.
“Tak perlu merasa bersalah Riz, percayalah aku
bahagia dengan hubungan kita selama ini. Sangat bahagia” dia berhenti karena
rasa sakit dikepalanya kembali datang.
“Apa keinginanmu?”
“Sekali saja sebelum aku pergi, katakan tiga kata
itu untukku”
Kupandangi lekat-lekat kedua mata indah yang bulat
padat serupa buah almond. Terlihat lelah, terlihat pasrah. Dalam kesakitan yang
amat sangat itu masih terasa cinta disana. “Kau tahu aku tidak bisa, aku tidak
akan bisa mengatakannya padamu”
Hening. Kami berdua hanya diam dalam kamar seluas
tiga kali empat meter itu. Henry kaka laki-laki Vita masuk menyeruak kedalam kamar dan menarikku keluar.
Setengah sadar aku diseret keluar kepelataran parkir. Beberapa pukulan mendarat
di pipi dan perutku. Begitu saja, rasa sakit itu tetep terasa namun tak seberat
dan sesakit yang kurasakan didalam dadaku. Aku menyadari aku telah benar-benar
mencintai Vita, namun alih-alih mengungkapnya aku malah bersembunyi dalam
kebohongan.
“Kau? Kenapa tidak kau turuti saja keinginan Vita?
Kenapa kau begitu tidak peduli” Henry berteriak berang. Suaranya membahana di lapangan parkir yang
sepi.
Pukulan demi pukulan terus kuterima tanpa melawan
ataupun menghindar. Ingatanku melayanag liar pada moment-moment bahagiaku denga
Vita. Bagaimana dia akan tertawa riang hanya karena hal-hal kecil yang
kulakukan untuknya. Candanya yang sarcastic tapi cerdas. Bagaimana dia
mengatakan bahwa selalu ada alasan untuk tersenyum bahkan ketika keadaan
menjadi sulit.
Aku ambruk. Henry menduduki perutku dan terus
memukul melepaskan semua amarahnya. Aku semakin tenggelam dalam lamunanku.
Bagaimana awalnya aku menemukan Vita mengerang kesakitan, menangis menahan
perih kepalanya sambil nafasnya tersenggal hebat. Betapa tersiksa ketika
seperti orang trance dia mengacuhkan panggilanku, tenggelam dalam dunianya.
Masih kuingat bagaiman dokter memfonisnya bahwa dia
tidak akan bertahan lebih dari enam bulan. Kangker otak stadium IV katanya.
Tidak mungkin, Vita terlalu muda, dia tidak akan mati.
Tidak, tidak, tidak. Aku berusaha membohongi diriku
bahwa dia tidak akan mati. Tidak enam bulan lagi, tidak enam tahun lagi. Dia
akan menemaniku, dia akan selalu disisiku. Aku terus meyakinkan diri sendiri
bahwa dokter salah.
Sayangnya perkiraan dokter benar-benar salah. Waktu
yang dikirakan enam bulan kedepan datang lebih cepat. Ketika seminggu lalu Vita
kembali collapse, aku tahu bahwa dia tidak menjalani terapi bahkan tidak pula
mengkonsumsi obat-obat dari rumah sakit yang baginya lebih menyiksa daripada
rasa sakit didalam kepalanya.
Terapi dan obat-obatan itu memaksa tubuhnya untuk
memuntahkan semua cairan dalam tubuhnya. Dalam sekejap menurunkan berat badannya, merontokkan rambut
rambutnya yang hitam kecoklatan. Tubuhnya mulai kurus kering, pucat. Tersiksa
tubuh dan batin, dia memutuskan berhenti. “Aku ingin tetap terlihat cantik
didepanmu”.
Entah apa yang membuatnya berpikir itu akan
menyenangkanku. Bagaimana aku bisa bahagia ketika aku harus lebih cepat
kehilangan dia hanya karena dia ingin terlihat tetap cantik dihadapanku.
“Aku tidak takut akan masa depan ataupun menyesali
masalalu, ada kau disini yang menguatkanku saat ini.... tak ada lagi yang
kubutuhkan untuk melewati sisa hidupku"
kata-kata itu terus mengiang di otakku sampai akhirnya aku tersadar
bahwa aku masih terbaring di lahan parkir rumah sakit. Henry sudah tidak nampak
lagi.
Aku memandang lurus keatas, kulihat bintang-bintang
dilangit redup sendu. Ada rasa masgul, seperti sebuah beban entah dari mana.
Kuentaskan jauh-jauh rasa sakit disekitar tubuhku. Tertatih menuju kembali
kekamar Vita, kekasihku.
Didepan kamar anggota keluarga telah berkumpul
menangis. Terjadi sesuatu. Aku berlari sekuat
tenaga. Rasa sakit akibat pukulan-pukulan Henry benar-benar telah hilang
namun karena suatu alasan dadaku terasa sesak. Menerobos kerumunan keluarga
diluar kamar aku temukan Vita terbujur diam. Dikirinya Hendry menangis parau,
sedangkan ibunya disisi lain.
***
Disinilah aku sekarang. Disisi nisannya. Dia telah
pergi selamanya. Kutarik nafas panjang memanjatkan doa pada ilahi.
Hidupku kini terasa lengang. Semua terasa kosong.
Beban kehilangannya sekin sesak karena banyak hal yang kusesali. Kenapa tak
kukatakan aku mencintainya. Kenapa aku tak berada disampingnya ketika dia pergi
Disana dimakam itu aku menangis. Berbicara seperti
orang tidak waras. Menceritakan kembali
kisah-kisahku tentang kekasihku kepada nisan yang kaku. Para pelayat dan
keluarga telah pergi lebih awal.
Seseorang menepuk pundakku memaksaku menoleh
kearahnya. “Henry?”
“Maaf soal kejadian semalam”
“Nggak papa, aku emang pantas dihajar”
“Kayaknya nggak juga?”
“….”
“Vita… dia bilang kalau itulah Rizki… Rizki tidak
mau mengatakan kalau Dia mencintaiku karena bila aku tahu dia mencintaiku, maka
aku akan tahu kalau dia akan hancur ketika aku pergi”
Aku tertegun, kupalingkan kembali pandanganku kearah
nisan marmer dingin bertulisakan nama Vita. Henry kembali menepuk pundakku
kemudian melangkahkan kakinya pergi.
***
Kupandangi kembali lukisan gadis hitam putih dengan
wajah sendu dan topeng tersenyum ditangan kirinya. Aku tersadar betapa Vita
bisa melihat langsung kedalam diriku yang entah karena berbagai alasan selalu
menutupi diriku sebenarnya. Aku seperti wanita dalam lukisan itu yang
menyembunyikan sejatiku melalui topeng-topeng kepalsuan.
Regard
Grape_Strife/Clowreedt
My World, My
Rules
Contact
me : grape_strife@yahoo.co.id
Follow
my blog http://www.clowreedt.blogspot.com/